Pada banyak kesempatan saya kerap mendapatkan pertanyaan seputar mengapa generasi millenial rendah prestasinya dalam kancah olahraga? pertanyaan tersebut biasanya datang dari mereka yang berkecimpung di bidang pemerintahan begitu pula mereka yang aktif dalam bidang marketing.
Saya perlu akui bahwa geliat kompetitif dari kalangan pemuda millenial sedikit berbeda. Diantara beberapa temuan yang saya peroleh dari penelusuran etnografis sejak tahun 2008 adalah:
1. Semakin sedikit pemuda yang bermain sepakbola di lapangan besar, namun di tempat lain pemuda yang aktif dalam kegiatan nobar sepakbola semakin banyak.
2. Komunitas pemuda semakin banyak namun kegiatan yang digeluti lebih terfokus pada hobby non kompetitif (kompetisi yang dimaksud disini berorientasi liga professional).
3. Street sports dan extreme sports menjadi kian populer, yaitu diantaranya skateboard, inline skate, dan bmx.
4.Social media menggeser makna prestasi dari perolehan medali ke perolehan jumlah follower dan like. Hal ini membuat para atlet yang berprestasi jarang dikenal oleh khalayak luas.
5. Sejak era reformasi pemerintahan berada pada fase transisi, oleh karena itu selama 10 tahun terakhir jarang didapati adanya iconisasi atlet di ranah elit yang digarap oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan era orde baru dimana para atlet badminton nasional seperti Susi Susanti diangkat sebagai icon nasional.

6. Tidak adanya icon nasional membuat pemuda menjadi militan dan sporadis dalam mencari role model. Mereka pun menemukannya melalui media sosial.
7. Tidak adanya liga yang digelar dengan baik dan berkesinambungan. Hal ini membuat pemuda semakin tidak berkomitmen di bidang olah raga elit.
Dari beberapa poin diatas saya menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan relasi antara generasi millenial dengan prestasi di bidang elit sports tidak dapat dijawab dengan jawaban yang mudah dan singkat. Banyak sekali aspek makro juga mikro yang terlibat, terlebih lagi aspek politik yang juga menjadi penghambat.
Dengan demikian, kita berharap akan adanya wadah-wadah baru yang benar-benar concern akan hal ini. Sebuah kolaborasi antara bidang marketing, management atlet, event organizer dan sponsorship benar-benar diharapkan.
Saya yakin Macan Asia yang sedang tertidur ini akan segera bangkit
Dr. Muhammad Faisal
Founder Youth Laboratory Indonesia/ Youthlab Indo
Etnografer Budaya Anak Muda Indonesia
more info:
www.enterthelab.com
Saya perlu akui bahwa geliat kompetitif dari kalangan pemuda millenial sedikit berbeda. Diantara beberapa temuan yang saya peroleh dari penelusuran etnografis sejak tahun 2008 adalah:
1. Semakin sedikit pemuda yang bermain sepakbola di lapangan besar, namun di tempat lain pemuda yang aktif dalam kegiatan nobar sepakbola semakin banyak.
2. Komunitas pemuda semakin banyak namun kegiatan yang digeluti lebih terfokus pada hobby non kompetitif (kompetisi yang dimaksud disini berorientasi liga professional).
3. Street sports dan extreme sports menjadi kian populer, yaitu diantaranya skateboard, inline skate, dan bmx.
4.Social media menggeser makna prestasi dari perolehan medali ke perolehan jumlah follower dan like. Hal ini membuat para atlet yang berprestasi jarang dikenal oleh khalayak luas.
5. Sejak era reformasi pemerintahan berada pada fase transisi, oleh karena itu selama 10 tahun terakhir jarang didapati adanya iconisasi atlet di ranah elit yang digarap oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan era orde baru dimana para atlet badminton nasional seperti Susi Susanti diangkat sebagai icon nasional.

6. Tidak adanya icon nasional membuat pemuda menjadi militan dan sporadis dalam mencari role model. Mereka pun menemukannya melalui media sosial.
7. Tidak adanya liga yang digelar dengan baik dan berkesinambungan. Hal ini membuat pemuda semakin tidak berkomitmen di bidang olah raga elit.
Dari beberapa poin diatas saya menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan relasi antara generasi millenial dengan prestasi di bidang elit sports tidak dapat dijawab dengan jawaban yang mudah dan singkat. Banyak sekali aspek makro juga mikro yang terlibat, terlebih lagi aspek politik yang juga menjadi penghambat.
Dengan demikian, kita berharap akan adanya wadah-wadah baru yang benar-benar concern akan hal ini. Sebuah kolaborasi antara bidang marketing, management atlet, event organizer dan sponsorship benar-benar diharapkan.
Saya yakin Macan Asia yang sedang tertidur ini akan segera bangkit
Dr. Muhammad Faisal
Founder Youth Laboratory Indonesia/ Youthlab Indo
Etnografer Budaya Anak Muda Indonesia
more info:
www.enterthelab.com
Komentar
Posting Komentar