Apa sebenarnya arti keren bagi seorang anak muda Indonesia? Tentunya dengan sangat mudah kita akan menjawab bahwa keren bermakna ‘mengetahui, memiliki, atau mengikuti tren terbaru’. Ternyata di era millenial, keren bagi seorang anak muda Indonesia memiliki nuansa yang sangat berbeda. Hal ini ditemukan oleh lembaga riset yang saya kelola, yaitu Youth Laboratory Indonesia.
Melalui riset etnografis yang dilakukan secara intensif sejak tahun 2009, saya bersama Youth Laboratory Indonesia menemukan pemaknaan yang mendalam dari anak muda Indonesia terhadap berbagai tren popular global. Di mana anak muda kita cenderung untuk lebih reflektif dan bisa dibilang lebih religius dari generasi pendahulunya. Hal ini tentu terdengar sangat mengejutkan, terlebih lagi apabila dalam keseharian kita melihat perilaku mereka kian liberal dan sekuler. Akan tetapi, di balik itu, secara rahasia mereka mencari makna-makna spiritual.
Dalam sebuah wawancara in depth yang pernah saya lakukan, seorang anak muda di kisaran usia 20-25 tahun memiliki jawaban yang menarik terhadap pertanyaan “apakah arti keren menurut kamu?”. Jawabannya adalah sholat lima waktu, atau berbakti terhadap kedua orang tua. Saya sangat terkejut pada awalnya, lalu mencoba menelusuri lebih dalam apakah jawaban tersebut hanya sekedar jawaban kamuflase atau dalam istilah riset social desirable answer? Ternyata tidak, dari satu responden ke responden berikutnya menunjukkan pola yang sama, dan tidak hanya di satu lokasi, akan tetapi di beberapa lokasi kota dengan kelas sosial yang berbeda.
Hal serupa saya temukan dalam sebuah survei yang kita lakukan dengan pertanyaan terbuka. Di mana terdapat lebih dari 200 partisipan. Anak muda menjawab bahwa keren itu simpel, pendiam, baik, dan cuek. Kata ‘baik’ perlu kita garis bawahi, karena hal itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan berbagai tren yang tengah mengemuka secara global. Akan tetapi ia lebih dekat relasinya dengan moralitas. Di sebuah dunia yang semakin kompetitif dan individualistik, anak muda Indonesia ternyata semakin sensitif terhadap moralitas.
Sebenarnya hal ini menjelaskan banyak hal. Seperti misalnya, penolakan konser Lady Gaga di Indonesia pada tahun 2012 yang sangat erat kaitannya dengan moralitas dan religi. Lady Gaga dianggap sebagai pemuja setan dan memiliki pandangan dunia yang negatif. Di lain pihak kita juga dapat secara retrospektif melihat ke belakang bahwa ikon-ikon muda yang everlasting senantiasa memiliki dua kualitas atau dua wajah karakter, yaitu rebellious namun alim sebagaimana Iwan Fals, Rhoma Irama, dan Slank.
Ilmu psikologi memiliki sebuah penjelasan menarik tentang fenomena ini, yaitu bahwa dalam sebuah situasi yang sangat rumit dan kompleks, individu pasti akan melakukan sebuah cultural buffering. Atau dengan kata lain berusaha melakukan rasionalisasi dengan mengejawantahkan segala nilai, keyakinan, dan pandangan kultural yang sedang mengendap di dalam kepala. Hal tersebut dilakukan seorang manusia untuk dapat mencapai kembali keadaan equilibrium psikologis, atau kondisi kognitif yang konsonan.
Sekarang, yang menjadi pekerjaan rumah bagi generasi pendahulu atau lembaga dan brand yang hendak bekerja sama atau menargetkan anak muda adalah untuk mampu menyelami nilai-nilai kultural yang digunakan oleh anak muda sebagaibuffering. Yaitu buffering respons terhadap globalisasi. Variannya sangat beragam di setiap setting lingkungan. Karena sekali lagi secara geografis bangsa kita adalah sebuah archipelago, dan sejak dahulu kala sangat religius. Bukankah piramida tertua di dunia ditemukan tak jauh dari Kota Garut?
Muhammad Faisal
Doktor dalam Bidang Psikologi
Direktur Eksekutif Youth Laboratory Indonesia
Lembaga pertama yang berdedikasi terhadap riset Indonesian youth culture
Komentar
Posting Komentar