Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Keunikan Generasi Millenial Indonesia (Kolektivitas, Identitas, dan Media Sosial)

INDONESIAN YOUTH CULTURE: Kolektivisme,Identitas, dan Media Sosial Muhammad Faisal M.Si BAB 1 Kei, Seorang sahabat dari Jepang, pernah bertanya kepada saya pada sebuah pertemuan santai di sebuah Kafe di bilangan Sabang “Mengapa anak muda di negaramu selalu menggonta-ganti foto mereka di facebook dan bbm?”, saya balik bertanya “ada yang salah dengan hal itu?”. Kei lalu menyambut “Di Jepang saat ini anak muda menilai privasi dengan harga yang sangat mahal, bahkan mereka rela membeli sebuah avatar sebagai topeng untuk menutup wajah asli mereka!”. Pertemuan dengan Kei Shimada, seorang kawan ahli telekomunikasi dari Jepang tersebut meninggalkan sebuah pertanyaan hipotetis yang mendalam pada diri saya. Dimana, pertanyaan hipotetis tersebut apabila bisa terjawab dengan baik, maka akan dapat menjelaskan begitu banyak permasalahan seputar perilaku dan budaya anak muda millenial di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya juga telah menjadi unek-unek dari kelompok generasi b...

Masa Depan dan Potensi Segmen ‘Alay’

Sekitar lima tahun yang lalu muncul istilah baru di kalangan anak muda, yang terus menetap di benak masyarakat hingga sekarang yaitu istilah yang  ‘Alay’ . Kata  ‘Alay’ merupakan singkatan dari kata  ‘Anak layangan’ , sebuah istilah yang menurut saya sebenarnya lahir dari kelompok ekonomi menengah ke atas. Yaitu label bagi anak-anak dari kalangan sub-urban yang mencoba terlalu keras untuk mengikuti tren anak kota dari ekonomi kelas atas. Mereka, para ‘Alay’, sering berpenampilan dengan rambut dicat coklat atau merah, dari sanalah muncul asosiasi  ‘Alay’  dengan ‘ Anak layangan’. Secara demografis, segmen muda  ‘Alay’  merupakan segmen mayoritas. Sebab, kelompok ekonomi menengah kebawah sendiri berada di kisaran 70 persen dari total populasi Indonesia. Karakteristik mereka antara lain adalah mengenakan t - shirt bertuliskan kata-kata yang menarik perhatian, skinny jeans yang robek, rantai tergantung di celana, rambut pony panjang dengan tampilan basa...

Indonesian Female Youth: Fashion, Beauty, and Bloggers

Approximately 20 years ago, the teens in Indonesia defined beauty and fashion through the cover of local magazine. Among the famous one are Gadis and Aneka magazine, a trends, fashion and lifestyle magazine that are considered as having authority in its domain. Ten years laters, MTV was on the national television, Cosmopolitan magazine were available at the street merchant, beauty concept was slightly different. To be ‘indie’, ‘masculine’ and ‘free’ is a major currency among Indonesian teens. Beauty then, was a bit deconstructed. Recently, beauty and fashion has it’s own reference. It’s now the era of the common people, the girl next door who put up online post on high heels and blazer could be considered also as a ‘fashionista’. Dian Sastro Phenomenon Who is Dian Sastro Wardoyo? She’s the Indonesian teen icon of two decades, from mid 90 to early millenium. She’s a cover girl contest winner for Gadis Magazine in 1996. Since then her face showed up in many brand ads as well as vide...

Generasi Millenial Indonesia, Generasi Paling Religius?

Apa sebenarnya arti  keren  bagi seorang anak muda Indonesia? Tentunya dengan sangat mudah kita akan menjawab bahwa  keren  bermakna ‘mengetahui, memiliki, atau mengikuti tren terbaru’.  Ternyata di era millenial,  keren  bagi seorang anak muda Indonesia memiliki nuansa  yang sangat berbeda. Hal ini ditemukan oleh lembaga riset yang saya kelola, yaitu Youth Laboratory Indonesia. Melalui riset etnografis yang dilakukan secara intensif sejak tahun 2009, saya bersama Youth Laboratory Indonesia menemukan pemaknaan yang mendalam dari anak muda Indonesia terhadap berbagai tren popular global. Di mana anak muda kita cenderung untuk lebih reflektif dan bisa dibilang lebih religius dari generasi pendahulunya. Hal ini tentu terdengar sangat mengejutkan, terlebih lagi apabila dalam keseharian kita melihat perilaku mereka kian liberal dan sekuler. Akan tetapi, di balik itu, secara rahasia mereka mencari makna-makna spiritual. Dalam sebuah wawancara in de...

Pasar Santa: Eklusivitas-Inklusivitas Anak Muda Millenial?

Pada saat saya pertama kali terjun di lapangan untuk melakukan riset etnografis terhadap anak muda millenial pada tahun 2009, saya melibatkan beberapa mahasiswa magang untuk membantu saya secara teknis di lapangan. Salah satu diantara mahasiswa magang tersebut adalah Edu, seorang pemuda di awal usia 20 yang gemar terhadap fashion serta berstatus sebagai drummer sebuah band blues terkemuka. Ia memberi masukan kepada saya dengan mengatakan bahwa  ‘bagi anak muda Mas, prinsipnya makin susah kita masuk atau dapatkan, maka hal itu semakin tinggi values atau nilai keren-nya’ . Saya menerima saran Edu dan sejak saat itu saya selalu menggunakan perspektif Edu sebagai indikator keren atau tidaknya sebuah tren atau komunitas. Satu hal yang menarik saat ini adalah bahwa tesis “eklusivitas” dari Edu diuji oleh berbagai fenomena kekinian, diantaranya adalah sikap inklusif dari kaum ekslusif. Inklusivitas kaum Ekslusif Saat ini tengah muncul sebuah tren anak muda yang sangat menarik untuk d...